Blog Personal si Pembelajar Hidup
Kita ini saat ini sudah hidup dalam INFORMATION AGE. Karena itu mind set kita harus sedikit disesuaikan dengan zaman ini. Sebelum adanya SMS dan e-mail, kalau kita cuman ngasih tau lisan ke orang lain mengenai ‘bahaya coca-cola’ misalnya, paling-paling yang berhenti minum coca-cola beberapa orang saja, dan ini sama sekali tidak menjadi masalah buat industri coca-cola. Tapi di jaman SMS dan e-mail ini, e-mail yang tidak benar dari 1 orang, bisa mengubah dunia.
Tahun 1999 ketika baru 1 tahun terjadi kerusuhan jakarta, saat itu ramai sekali di e-mail bahwa akan ada kerusuhan serupa, dan ini diforward terus ke semua orang dengan alasan ‘waspada saja, siapa tahu benar terjadi’, akibatnya pada tanggal yang sudah ‘diramalkan’ tersebut banyak orang kaya berlibur ke luar negri untuk keselamatan dirinya. Belakangan disinyalir bahwa e-mail tersebut digunakan oleh beberapa travel agent untuk meningkatkan penjualan mereka. Kasian sekali bangsa ini, begitu mudahnya dimanipulasi.
Beberapa waktu lalu saya juga menerima e-mail HOAX tentang gula merah yang menggunakan zat pengawet katanya. Coba bayangkan kalau e-mail ini sudah dibaca oleh banyak orang, sedangkan yang membuat gula merah itu kan kebanyakan para petani rakyat kecil, mau lebih susah lagi kayak gimana mereka itu? Apa kita tidak kasian dengan tanpa sadar telah ikut memfitnah mereka? FYI saya sudah menanyakan kepada seorang ibu yang pernah jadi petani yang membuat gula merah, menurut beliau gula merah itu tanpa bahan pengawet aja udah awet lama, buat apa pake pengawet lagi?
Kita bukan lagi tersembunyi sekarang. Kita bisa jadi terkenal hanya dengan e-mail dengan sekali klik tombol send, dan segala yang kita kirimkan melalui e-mail bisa dibaca oleh seluruh dunia.
Di pihak lain, kita juga sengaja atau tidak sengaja bisa menjadi agent kejahatan dan pencemaran nama baik tanpa harus menanggung akibat yang ditimbulkannya. Misalnya dalam kasus gula merah tadi, kalau sudah terbukti bahwa gula merah TIDAK mengandung pengawet, dan kalau pun ada orang yang mau menuntut, dia bisa menuntut siapa? Baik pengirim pertama, maupun semua orang yang memforward bisa sama sekali lolos dari jerat hukum. Dan kita tidak pernah menjadi jera. Mungkin harus tunggu penghakiman dari Tuhan dulu baru kita bisa menyadari akibat yang kita timbulkan dari hanya sekedar klik tombol FORWARD.
Saya menulis e-mail panjang lebar ini bukan untuk mendiskreditkan seseorang atau kelompok tertentu. Juga saya TIDAK bermaksud mengatakan bahwa kita TIDAK boleh memforward berita kepada orang lain. Hanya saja sekali lagi, sebelum kita klik tombol FORWARD, please check dan recheck dulu kebenarannya. Asas praduga tak bersalah masih harus kita junjung tinggi dalam masalah ini, yang berarti kalau kita tidak bisa check dan recheck, kita sama sekali TIDAK PUNYA HAK untuk forward berita tersebut kepada orang lain.
NB: buat yang belum tau, berikut ini saya cuplik dari wikipedia,
The word HOAX is said to have come from the common magic incantation hocus pocus.
A HOAX is a deliberate attempt to dupe, deceive or trick an audience into believing, or accepting, that something is real, when in fact it is not; or that something is true, when in fact it is false
Hoax adalah usaha untuk memperdaya orang-orang agar mempercayai sesuatu yang salah adalah benar.