Dec
12
Filed Under (Christianity) by giftoflife on 12-12-2007

Uang adalah pelayan yang baik, dia dapat kita pakai untuk
mencukupkan kebutuhan-kebutuhan kita. Uang dapat dipakai untuk menolong orang
lain dan bahkan mengubah dunia. Tapi sayanya uang akan menjadi boomerang bagi
kita kalau kita menempatkan uang tersebut sebagai majikan kita. Dia bisa
mengambil segala waktu kita bersama keluarga, waktu luang kita, bahkan bisa
merampas kebahagiaan hidup kita. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar uang
menjadi pelayan kita dan bukan menjadi tuan kita? Berikut ini adalah 4 prinsip
penggunaan uang yang dapat kita terapkan agar uang menjadi pelayan kita.

 

1. Bekerjalah untuk mendapatkan uang. “Orang
yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan
melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat
membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” (Efesus 4:28) Dari ayat
ini dapat kita pelajari bahwa Tuhan ingin kita : (1)BEKERJA KERAS dalam
(2)PEKERJAAN YANG BAIK dengan (3)TANGANNYA SENDIRI. Ini mengandung arti yang
dalam, di mana dalam bekerja untuk mendapatkan uang kita dituntut bukan bekerja
biasa-biasa, tetapi bekerja dengan keras. Selain harus bekerja dengan keras,
kita harus bekerja dengan cara yang baik pula, bukan dengan membenarkan segala
cara. Dan yang ketiga, kita harus bekerja dengan tangan sendiri, artinya kita
tidak memanipulasi orang lain untuk mendapatkan keuntungan bagi kita. Ini juga
berarti kitalah yang harus bekerja keras, bukan orang tua kita, atau orang lain
yang bekerja buat kita. Dengan demikian kita bisa menghargai setiap sen yang
kita miliki dan bukan menggunakannya untuk kepentingan yang tidak benar dan
sia-sia.

 

2. Tidak menggantungkan diri pada uang. Dalam
Lukas 12:15, Yesus berkata dengan sangat eksplisit dan jelas sekali bahwa
“Walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari
pada kekayaannya itu.” Kemudian Yesus menceritakan perumpamaan mengenai seorang
yang kaya raya yang mempunyai banyak sekali harta benda, hingga suatu saat dia
berkata pada dirinya sendiri bahwa dia bisa tenang sekarang dan tinggal melalui
hidup dengan bersenang-senang. Namun ternyata Tuhan mengambil nyawanya, nah apa
artinya seluruh kekayaannya itu?

Uang ternyata tidak mampu membeli banyak hal di dunia
ini: keselamatan, kebahagiaan, kedamaian, integritas dan kebenaran. Semua
kualitas hidup yang penting itu disediakan Tuhan secara cuma-cuma bagi
orang-orang yang percaya kepada-Nya. Banyak sekali kejadian bahwa orang yang
berpenghasilan lebih besar dan tidak pernah membayar perpuluhan malah hidupnya
lebih susah daripada orang yang berpenghasilan lebih rendah dan setia membayar
perpuluhan. Mengapa? Ternyata orang yang berpenghasilan lebih tinggi tersebut
sering sakit dan banyak pengeluaran tak terduga, sedangkan orang yang lebih
kecil penghasilannya itu ternyata malah jarang sakit, dan banyak menerima
pertolongan secara tak terduga dari orang-orang di sekitarnya sehingga
pengeluaran per bulannya lebih kecil. Kualitas hidup kita sama sekali tidak
bergantung pada berapa banyak uang yang kita miliki.

 

3.  Tidak berhutang. Roma 13:8a
“Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga”, ini mempunyai 2
pengertian: (1) Kita hanya boleh berhutang apabila kita memang mampu membayar
hutang kita pada waktunya, dan (2) Kita punya kewajiban untuk melunasi segala
hutang kita on time. Prinsip ini menjauhkan diri kita dari kebiasaan buruk
berhutang. Hutang tidaklah boleh kita anggap sebagai suatu sumber dana
sehari-hari, melainkan “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah
dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku
sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan
meninggalkan engkau.’” (Ibrani 13:5)

Peringatan ini termasuk juga untuk penggunaan Kartu
Kredit secara serampangan. Bagi banyak orang, Kartu Kredit sering dijadikan
sebagai sumber dana bagi barang-barang yang tidak mampu dibeli, kemudian kalau
sudah mencapai limit maka dia akan membuat kartu kredit yang baru dan tidak pernah
melunasi kartu-kartu kredit itu. Hal-hal semacam ini yang dikecam oleh Firman
Tuhan.

 

4. Tujuan mencari uang bukanlah uang itu
sendiri.
Banyak orang bekerja sampai lupa waktu, lupa keluarga dan
meninggalkan kehidupan di luar pekerjaannya untuk mendapatkan uang yang banyak,
tapi setelah mendapat uang yang banyak, orang tersebut seakan-akan kehilangan
makna hidupnya. Mengapa? Karena dia mencari uang dengan tujuan MENCARI UANG
YANG BANYAK, sehingga setelah uang memang banyak terkumpul, dia tidak lagi memiliki
tujuan dalam hidupnya, bahkan dia harus membayar harga yang sangat mahal
sebagai ganti kesehatan badannya yang terlalu diforsir, kebahagiaan
keluarganya, pertumbuhan anaknya, dll.

Seharusnya, tujuan mencari uang yang penting: (1)
menghidupi keluarga, (2) Memberi kepada orang yang berkekurangan (Efesus 4:28
tadi), dan (3) Memberi kepada Tuhan untuk pekerjaan-pekerjaan Tuhan di muka
bumi ini dan untuk mencukupi kehidupan para hamba Tuhan purna waktu yang memang
hidup dari persembahan kita.

Seorang anak berusia 16 tahun, karena begitu
miskinnya sehingga orang tuanya tidak sanggup lagi membiayai hidupnya, dan dia
harus pergi mencari uang sendiri. Maka anak ini berbekal imannya kepada Kristus
mencari nafkah di kota New York. Dia bertekad untuk melakukan perpuluhan secara
setia. Setiap 1 dollar yang dia terima benar-benar disisihkan 10 sen untuk
diberikan kepada gereja tempat dia beribadah. Sedikit demi sedikit
penghasilannya mulai meningkat. Dia terus setia memberikan perpuluhan. Suatu
ketika, pemuda ini berhasil menemukan suatu cara untuk membuat pasta gigi, maka
penghasilannya makin lama makin meningkat secara pesat. Penghasilannya terus
meningkat sedangkan pengeluarannya tidak bertambah terlalu banyak, maka dia
mulai memberikan dua puluh persen dari penghasilannya ke gereja. Karena
bisnisnya makin baik, maka dia menambahkan 10% lagi penghasilannya menjadi 30%
untuk pekerjaan Tuhan. Demikian terus dia menambahkan persentase penghasilannya
yang diberikan kepada Tuhan. Orang ini semakin kaya dan semakin diberkati Tuhan
sampai menjelang akhir hidupnya, si pemuda yang dulu miskin, sekarang hanya
hidup dengan 10% dari penghasilannya dan tidak pernah berkekurangan dalam
hidupnya. 90% penghasilannya diberikan kepada pekerjaan pelayanan Tuhan. Nama
orang itu adalah William Colgate. Maka aminkanlah Firman Tuhan ini, “Janganlah
kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.
Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan
Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’” (Ibrani 13:5)

Dec
10
Filed Under (Christianity) by giftoflife on 10-12-2007

—–diambil dari tulisan Ir. Herlianto M.Th.

Beberapa bulan yang lalu diterima selebaran yang diselipkan di surat kabar Pikiran Rakyat berjudul ‘Seorang Mojang Bandung Menghasilkan Ribuan Dolar US Dari Internet.’ Juga disebutkan bahwa Anne Ahira (25) gadis itu telah berpenghasilan US$ 3.000 - 5.000 setiap bulan (Ia menjual produk paket-paket training). Pada bulan Agustus 2005, Anne yang pernah mendapat Piagam Kartini 2005 itu menyatakan bahwa bisnisnya rontok dan menyalahkan perusahaan yang diikutinya dan menganggap bahwa ia senasib dengan ratusan downline yang merugi di bawahnya. Inilah gambaran jelas mengenai salah satu bentuk bisnis Multi Level Marketing (MLM) yang ibarat fatamorgana kelihatannya menjanjikan namun kenyataannya menipu.

Beberapa bulan terakhir ini banyak undangan diterima untuk berbicara mengenai bentuk bisnis MLM yang diterima dari beberapa gereja dan persekutuan mahasiswa. Kelihatannya memang bisnis MLM masih terus meluas tetapi juga terus mendatangkan korban. Setidaknya ada 10 bentuk penipuan dibalik bisnis yang dielu-elukan banyak orang itu.

1. MLM Bukan Piramid. Pada umumnya perusahaan MLM menyebutkan bahwa mereka bukan Piramid dan menyalahkan bisnis Money Game, namun kalau diteliti, MLM menyalahkan bisnis Piramid yang dibatasi hanya dengan pengertian Arisan Berantai atau Money Game dimana ibarat gunung es, hanya sedikit di atas yang untung (winner) dan sebagian besar di bawah yang merugi (loser). Sejujurnya, pernyataan itu menipu, karena faktanya MLM juga menjalankan sistem pemasaran berjenjang (multi-level) yang sama dimana hanya sedikit yang untung yaitu beserta terdahulu dan kebanyakan harus merugi agar bisa dihasilkan sedikit yang untung tersebut dengan skema piramid yang sama dengan arisan berantai. Yang membedakan adalah bahwa Arisan Berantai adalah bisnis Piramid yang tidak melibatkan produk (naked Pyramid) sedangkan MLM melibatkan produk (product based Pyramid). Faktanya uang yang beredar pada MLM produk bila dikurangi dengan harga bahan baku produk, sebenarnya sisanya menjadi money game pula. Ada MLM dengan satu juta distributor setiap tahun mensyaratkan pendaftaran ulang Rp.50.000 per distributor, ini berarti setiap tahun puncak piramid (pengusaha MLM) mengeruk dana 50 milyar tanpa ada yang dibagikan pada distributor, ini lebih menipu daripada Money Game;

2. MLM Adalah Usaha Kemitraan. MLM mempromosikan bahwa sistem bisnis MLM adalah sistem kemitraan dimana tidak ada perusahaan atasan karena semua distributor adalah investor pemilik usaha. Faktanya, sama dengan pengalaman Anne Ahira, setiap saat perusahaan bisa memutuskan hubungan kerja dan meninggalkan banyak orang diambil hak bonusnya oleh sipengusaha, dan tinggallah ribuan orang yang belum menikmati janji-janji itu untuk gigit jari tanpa daya. Ada beberapa titik rawan yang menunjukkan bahwa dalam bisnis MLM mereka bukan mitra perusahaan tetapi karyawan prodeo, yaitu a.l.: (1) Sewaktu-waktu secara sepihak persentasi bonus/komisi bisa diturunkan oleh perusahaan; (2) Bila dianggap kurang aktif, bonus/komisi bisa tidak dibayarkan atau dicoret dari keanggotaan; dan (3) Dicoret dari distributorship kalau tidak membayar pendaftaran ulang tahunan. Tidak ada RUPS dan juga tidak ada Assosiasi Distributor yang melindungi hak mereka;

3. MLM Pilihan Terbaik Usaha Mandiri. MLM dipromosikan demikian seperti oleh Robert Kiyosaki dalam buku-bukunya. Orang dijanjikan pengharapan bahwa usaha MLM adalah pekerjaan mandiri milik sendiri dengan penghasilan yang tak terbatas untuk mencapai kebebasan finansial seumur hidup (pensiun dini). Inilah gejala bisnis Piramid bahwa seseorang dijanjikan mendapat passive income yang terus menerus yang faktanya didukung oleh ribuan downline dibawahnya. Sebenarnya bukan usaha mandiri karena sewaktu-waktu hubungannya dengan perusahaan bisa dihentikan dan pendukung di bawahnya bisa jenuh, berkurang karena persaingan, dan terhenti kalau ada bencana alam atau perang; Sebenarnya distributor MLM adalah buruh yang dimanfaatkan perusahaan MLM selama mereka menghasilkan, distributor dilarang menjadi distributor MLM lain, dan bila diputuskan hubungannya, jajaran downline yang direkrutnya tetap menghasilkan keuntungan bagi perusahaan;


4. MLM Menjanjikan Penghasilan Tak Terbatas.
Inilah janji-janji muluk perusahaan MLM yang menjanjikan bahwa semua bisa mencapai tangga sukses dan kaya raya. Janji yang menipu ini biasanya dipromosikan dengan kesaksian mereka (yang sedikit) yang telah mencapai level Silver atau Diamond, tetapi fakta ribuan pendukung yang masih berpenghasilan sedikit atau merugi tidak dikemukakan. Gejala gunung es berlaku untuk semua bisnis MLM apapun namanya, apakah Arisan Berantai, Binari, atau MLM, bahwa untuk menghasilkan satu orang untung (winner) dibutuhkan sekitar 1000 lebih pendukung (loser), dan agar yang 1000 menjadi untung dibutuhkan 1.000.000 lebih pendukung. Di Amerrika seorang success story Nu Skin menyebut bahwa ia berhasil setelah memperoleh 5000 downline, Stephen Butterfield, mantan distributor aktif Amway meneliti laporan tahunan dan menemukan fakta bahwa hanya 1-2% distributor yang mampu menyamai penghasilan rata-rata di masyarakat, yang mencapai level diamond hanya 0,048%, dan agar seseorang berhasil meningkatkan kelas sosialnya harus dimasukkan 2.083 downline baru. Kiyosaki sendiri tanpa sadar dalam bukunya menyebut bahwa akan banyak orang berhasil di bisnis MLM setelah masuknya jutaan baby boomers.

5. MLM Adalah Bisnis Mereka Yang Berfikir & Bermental Positif. MLM dalam promosinya selalu menekankan bahwa MLM adalah bisnisnya mereka yang berfikir dan bermental positif untuk mencapai hidup maju dalam kebebasan finansial. Sangat disayangkan folosofi demikian yang tidak membuka mata bahwa keberhasilan seseorang dalam bisnis ini berarti kerugian banyak orang dibawahnya. Kita tidak harus berfikir dan bermental positif, cukup dengan berfikir benar dan realistis, kita akan melihat kenyataan bahwa ibarat piramid, firaun yang kaya raya mengorbankan ribuan rakyat dibawahnya, demikian pun perusahaan MLM. Sebaiknya sebelum seseorang bergabung dengan MLM meneliti dulu berapa success story yang dipromosikan dan berapa sudah jumlah anggota MLM. MLM terbesar di Indonesia, CNI, mengklaim punya satu juta distributor, namun hanya beberapa ratus success story yang tercantum dalam buku ‘Maha Bintang’ yang diterbitkan setiap tahun. MLM memang cenderung mengindoktrinasi para distributor dengan pelatihan-pelatihan yang bernada ‘New Age’ ke arah Positive Thinking. Paulus mengajar kita berfikir dan bermental benar dihadapan Allah: "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Flp.4:8). Apakah benar, mulia dan adil, dan bisa disebut kebajikan, bila kita menjalankan bisnis yang menguntungkan sedikit orang atas kerugian banyak orang? Yesus berkorban agar banyak orang diselamatkan;

6. MLM Membuka Banyak Lapangan Kerja. MLM sering dipromosikan sebagai pembuka lapangan kerja yang efektif, karena sejauh ini anggota APLI yang 60-an itu sudah memiliki anggota 4.000.000 lebih, belum termasuk perusahaan MLM yang berada di luar APLI. Angka-angka jutaan itu kelihatannya meyakinkan sebagai solusi masalah ketenagakerjaan di Indonesia namun sebenarnya menipu, karena faktanya, dari yang jutaan itu, hanya perusahaan yang maha untung, puluhan level diamond yang untung besar, ratusan level silver yang untung, ribuan yang untung sedikit atau tidak untung tidak rugi, namun sisanya yang mayoritas sudah mengeluarkan uang pemb eli produk mahal tetapi masih merugi. Jadi sebagian besar dari yang jutaan itu tidak bekerja dengan gaji cukup tetapi masih underpaid atau lost. Dalam perusahaan umum, umumnya semua pegawai menerima gaji dan jaminan sosial, dari direktur sampai tukang sapu;

7. MLM bukan judi. MLM dikatakan sebagai bisnis yang jujur dimana semua orang bisa berhasil asalkan rajin, juga dikatakan berbeda dengan judi yang hanya sedikit orang yang menikmati karena kekalahan banyak orang. Sebenarnya pernyataan ini menipu, karena: (1) MLM sama dengan judi dalam hal bahwa hanya sedikit yang menang (beruntung) dibanding sebagian besar yang kalah (merugi); namun, (2) MLM lebih menipu dari judi karena dalam judi, SEMUA orang memiliki kesempatan yang sama untuk menang, sedangkan dalam MLM HANYA MEREKA YANG DEKAT PUNCAK PIRAMID (pengusaha) yang minoritas yang akan menikmati kemungkinan itu, dan yang yang jauh dibawah puncak piramid yang mayoritas akan makin tidak mungkin mencapai kemenangan;

8. MLM adalah sistem bisnis yang banyak memberikan seminar pendidikan. Disatu sisi kelihatan memang MLM menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang sering dibandingkan perusahaan lain, namun kalau diperhatikan berbeda dengan pelatihan yang umumnya dilakukan perusahaan yaitu pelatihan tehnik/ketrampilan, MLM biasa menjalankan ‘motivational training’ yang cenderung mendongkrak kepercayaan diri seseorang dengan yel-yel yang menggairahkan. Dalam pelatihan ‘I Can’ slogan ‘Saya pasti bisa’ terus menerus didengungkan agar merasuk pemikiran peserta. MLM menjalankan pelatihan yang cenderung mendewakan ‘Aku’manusia dan kehausan manusia akan sukses materi (New Age). Kita harus juga berhati-hati karena perusahaan umum juga sering tergoda ’sukses instan’ dengan juga mengadakan training ‘motivational’ disamping yang ‘technical’;

9. MLM memberikan keuntungan lebih baik dari sistem bisnis yang lain. Biasanya MLM dipromosikan sebagai sistem bisnis yang lebih baik dari sistem bisnis yang lain, karena menjanjikan hasil besar, keuntungan dalam waktu singkat, waktu kerja yang sedikit, penghasilan abadi (pensiun dini), dan semua janji-janji muluk dengan contoh para peserta puncak yang sukses (hadiah mobil mewah, rumah besar, melancong ke mancanegara). Ini jelas menipu, karena dalam MLM hanya sedikit sekali yang dipuncak piramid yang akan mengalami hal itu, sedangkan sebagian besar peserta merugi agar dapat menguntungkan para ‘elit yang sedikit’ itu. Dalam perusahaan umum, dari Direktur sampai tukang sapu mendapat gaji yang sesuai dengan jabatan dan fungsi mereka, jadi tidak ada yang mengalami resiko rugi seperti yang dialami mayoritas distributor MLM. Yang jelas produk MLM biasa dijual lebih mahal dari barang sejenis dipasaran, karena pada umumnya bisnis MLM membagi harga produk menjadi 3 bagian, satu bagian sebagai keuntungan perusahaan (harap maklum mengapa pengusaha MLM superkaya), satu bagian dibagikan sebagai komisi bagi semua upliner, dan satu bagian untuk pembelian produk. Banyak usaha MLM membeli produk populer perusahaan lain lalu mengemasi dengan etiket MLM lalu mempromosikan sebagai ‘obat manjur.’;

10. MLM adalah perusahaan sah yang diakui karena bergabung dalam APLI. MLM memang belum tersentuh hukum dan keanggotaan dalam APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia) juga tidak membuktikan sah-tidaknya MLM tersebut karena APLI dibentuk oleh perusahaan-perusahaan MLM. Di Amerika Serikat, banyak MLM disalahkan dan ditutup karena terbukti melakukan penipuan terhadap distributor, namun segera setelah ada yang bubar perusahaan MLM bisa dengan mudah berdiri lagi dengan nama baru. Belum ada hukum yang melindungi distributor apalagi mereka tidak bergabung dalam paguyuban distributor MLM, dan kalau kasusnya bisa dibawa kepengadilan, ini membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikannya karena perusahaan MLM sangat kaya raya dan mereka bisa membayar banyak pengacara untuk membela mereka. Banyak hukum negara bagian di Amerika Serikat mengharuskan MLM menjual produknya sampai 70% kepada umum (non-distributor), dilihat dari hukum ini tidak ada MLM yang memenuhi syarat, karena umumnya MLM menjual produk secara eksklusif hanya kepada distributor;